Rabu, 20 April 2016

Open Letter for the number one person in Samarinda

The Honorable Samarinda’s Mayor
Mr.  H. Syaharie Jaang, SH, Msi
This open letter we made for tell our hope for our lovely city, Samarinda. As a teenager, we want to live in a nice city for our life, and we think we want Samarinda be a worthy city for child. We sure that a wothy city for child is people’s hungering, especially parents, because make them feeling safe and confident for their child’s growth.
Like we know that Samarinda since 2014 was socialization about “Samarinda to worthy city for child” and toward Samarinda be a worthy city for child represent one of Mister Mayor and Mister Deputy Mayor’s vision. But, the fact until now we can see everyday in every intersecting street there’s so much ANJAL (abbreviation for anak jalanan)  that selling newspaper, singing, clean some vehicle that stop with duster hope they got some money even asking for give them, conscious or not if their activity bring them to have bad behavior, such as criminal, free sex, and drugs, though child is determinant how Samarinda city in future, and child have their rights and obligation as described in UU No. 23 tahun 2003.
Sir, do you have any plan for overcome this problem ? is it well done ? Because we don’t see any change for this problem, in fact one of this problem area close to your official house. Child that use to studying in school or get love and protection from their parents oppositely in street that can harm their life, they can’t get what they must have and do, where’s their right ? are they do their obligation ? All those things that make Samarinda very far for getting mention a worthy city for child.
What a nice thing if : there’s a program and routine socialization to citizen for motivating their awareness so that help goverment for realize Samarinda as worthy city for child,  for who will be parent they must have ability to realize their child’s right and obligation, and then special education for ANJAL  so that they can get their right and obligation, coaching parents of ANJAL that can help the economy, and we hope to you sir, can realize our dream that same with your vision, Samarinda not just toward but also Samarinda be a worthy city for child.

Turfa’ Selmi Abdi Qanitan,
Yulia Resty

Jumat, 01 Januari 2016

KEUNIKAN PASAR TERAPUNG SIRING PIERE TENDEAN DAN KEKAYAAN WISATA PULAU KEMBANG

            Liburan akhir semester tahun ini memberikan kesan tersendiri terhadap pengalaman saya. Sesuai dengan rencana beberapa minggu sebelum libur akhir pekan tiba, saya dan keluarga saya berlibur ke Kalimantan Selatan tepatnya ke Kota Banjarmasin untuk mengunjungi sanak saudara agar mempererat tali silahturahmi. Sesuai dengan perintah Allah SWT QS. An-Nisa ayat 1, “…dan (peliharalah) hubungan silahturahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu”.
            Selain mengunjuni sanak saudara, kami sekeluargapun menyempatkan diri untuk menikmati Kota Banjarmasin yaitu menuju tempat wisata yang menjadi ciri khas kota yang berjulukan “Kota Seribu Sungai” ini. Pagi hari sekali, kami menuju kepinggaran Sungai Siring, salah satu sungai yang ada di Banjarmasin. Tempat ini menjadi tempat yang strategis dan banyak dikunjungi oleh warga Kota Banjarmasin, sebagai sarana jogging dan wisata belanja.
Deretan Pedagang Pasar Terapung
      Dipinggiran sungai ini ditata sedemikian rupa agar memberikan kenyamanan dan keamanan bagi para pengunjung, berbagai macam dagangan ditawarkan yang dapat kita temui disepanjang pinggiran Sungai Siring. Saat kita sampai di ujung jalan disanalah Pasar Terapung Siring Piere Tendean berada. Terlihat para pedagang yang duduk di atas perahu yang disebut jukung menjajakan dagangannya di pinggir tempat yang sudah disediakan.
            Namun kondisi Pasar Terapung dulu dan sekarang sangat berbeda, dahulu jumlah pedangan Pasar Terapung sangatlah banyak, Sungai Siring dipenuhi dengan kegiatan jual beli di atas perahu yang pada saat itu masih dengan sistem barter, berbeda dengan sekarang yang jumlah pedangan yang ada hanya beberapa, dan apabila kita ingin membelipun dengan menggunakan uang.
kegiatan jual beli di Pasar Terapung
Karena perbedaan zaman yang semakin modern, transportasi dan perdagangan sekarang tidak terpaku dan berpusat di sungai, namun sudah banyak dengan mudahnya kita temui, terutama di wilayah perkotaan. Walau begitu, masih adanya pedagang yang berpartisipasi menunjukan bagaimana sejarah kota Banjarmasin dulunya.
Wisata Kuliner di Pasar Terapung
            Mengenai keadaan yang ada di sekitar lokasi pasar terapung, akses pengunjung agar dapat mencapai para pedagang yang berlabuh, dapat di sebut rawan. Karena, tempat kita berpijak yaitu di atas papan-papan yang mengapung, dan apabila jumlah orang yang berdiri di atas papan itu terlalu berlebihan, maka salah satu sisinya akan tenggelam. Hal ini memberikan sensasi tersendiri terhadap pengunjung baru yang belum terbiasa dengan keadaan tempat berdiri yang rawan tersebut. Walaupun rawan, namun ada beberapa pedagang kuliner yang dapat berjualan di atas papan tersebut, dan pengunjungpun bisa dapat duduk dan makan dengan baik. 
            Di area Pasar Terapung, selain menyajikan suasana jual beli, adapun penyewaan kapal kecil yang disebut klotok. Untuk menaiki klotok penumpang diwajibkan untuk membeli tiket terlebih dahulu, dan menunjukan tiket sebelum naik ke atas klotok. Klotok sendiri banyak digemari oleh pengunjung yang berwisata dengan keluarga besar, klotok akan membawa kita menyusuri Sungai Siring. Klotokpun dapat menjadi transportasi kita untuk menuju ke Pulau Kembang, yaitu sebuah ekowisata miliki Kota Banjarmasin.
            Dengan membayar Rp 500.000,00, kami dapat pulang pergi dari area Pasar Terapung-Pulau Kembang. Tiap penumpang diberi jaket pelampung untuk standar keselamatan dan kenyamanan. Saya dan beberapa sepupu saya memilih untuk duduk di atas atap klotok yang rata untuk menikmati pemandangan dan hembusan angin pagi segar kota Banjarmasin, sedangkan yang lain memilih untuk duduk di dalam klotok, yang harus menunduk hingga agar dapat memasukinya.
           
Anak-anak yang bermain di sungai
Dalam perjalanan menuju ke Pulau Kembang, ada satu hal yang sama sekali tidak pernah saya lihat di perkotaan dan kesan kebersamaan yang sangat saya dapatkan. Yaitu, anak-anak yang bertempat tinggal di pinggiran sungai, mereka bergelayutan di bawah jembatan dan meloncat ke atas klotok, ternyata ini adalah hal yang wajar yang biasa anak-anaka daerah sini lakukan bersama teman sebayanya.
            Betapa lihai dan beraninya mereka untuk meloncat bersama ke atas klotok, dan beberapa yang menggapai tangan kawannya yang sedang berenang di sungai untuk ikut naik ke atas klotok. Kemudian, disaat akan mendekati jembatan yang selanjutnya, merekapun bersiap sedia untuk meloncat dengan gaya bebas ke sungai. Dengan aba-aba dari salah satu kelompok mereka, serentak mereka loncat dari atas klotok ke sungai.
            Pemandangan inilah yang sangat saya senangi dalam liburan saya kali ini, karena betapa kagum nya saya. Di jaman modern ini, disaat teknologi sangat berkembang, masih ada para generasi muda yang lebih memilih menghabiskan waktunya bermain bersama dengan teman dan alam, ketimbang berdiam diri dirumah dan menatap layar monitor. Senyuman keceriaan mereka kala itu, membuat saya begitu bersemangat.

Sesampainya di Pulau Kembang, sebuah pulau kecil yang berada di tengah tengah sungai besar, pulau ini memang bernama Pulau Kembang, namun sebenarnya pulau ini bukan dipenuhi oleh berbagai macam kembang (bunga) namun yang dipenuhi banyak sekali kera. Sejarahnya mengapa disebut pulau kembang, dahulu kala karamnya kapal pendatang dari Cina karena ditenggelamkan oleh orang sakti kerajaan Kuin dulu, sehingga membuat batang batang pohon menyangkut dan membentuk pulau, orang orang yang merasa memiliki ikatan batin dengan nenek moyang pun datang dengan membawa kembang dan bertumpuklah banyak kembang disana sehingga disebut pulau kembang.
Sedangkan dengan keberadaan monyet disini dikarenakan keluarga Kerjaan Kuin yang dapat memiliki keturunan setelah mandi mandi di Pulau Kembang, sehingga diperintahkan pengawal untuk menjaga pulau tersebut agar tidak ada yang menggangu ataupun merusak, pengawalpun membawa sepasang kera ke pulau tersebut, pengawal sendiri menghilang secara gaib dan kera yang ditinggalkan beranak pinak sehingga menjadi penghuni Pulau Kembang.

Sebelum memasuki tempat wisata ini, masing masing dari kami membayar tiket dengan harga Rp 7.500 per orangnya, kemudian beberapa orang menawari kami kacang untuk member makan kera di dalam sana dan kami mengikuti pemandu yang ada. Pulau Kembang sendiri masih alami hutan, dengan jalan setapak kami menyusuri pulau ini. Baru saja memasuki area hutan, kami telah di sambut dengan kera dan duduk di atas dahan pohon, karena kera kera sini tidak berada dalam kandang namun bebas berkeliaraan, sehingga kita secara langsung bercengkrama dengan para kera liar penghuni pulau ini, seperti member makan mereka, menyentuh mereka, ataupun berfoto bersama mereka.
            Perjalanan wisata saya kali ini ditutup dengan sinar matahari yang mulai berada di atas kepala, dan saya sekeluargapun kembali dengan menggunakan klotok. Benar benar perjalanan yang sangat berkesan, dan tidak terlupakan untuk menambah wawasan dan pengalaman saya. Dimana saya  menambah wawasan, mengetahui sejarah, dan lebih memiliki rasa cinta tanah air karena berbagai macam keunikan dan keindahan yang ada di Indonesia.

             

Kamis, 13 Agustus 2015

Kebaya the Symbolic of Indonesia's Woman Custom



    In many parts of indonesia, the kebaya is seen as a strong nationalistic symbol and has been strongly supported as a symbol of identity for indonesian women by prominent figures throughout the nation's history.
 

   Recently, this indonesian dress has become recognized internationally as it is used as the uniform for flight attendance (stewardesses) on singapore airlines, malaysia airlines, and garuda indonesia.

It's okay if other countries wear this costume as their stewardesses' uniform as long as they don't claim it as their own costume and it'll be much better if they promote our costume. indonesian people must protect this traditional costume from other countries who would take or steal the ownership of this original costume from indonesia.

Kebaya for Muslimah
Kebaya Modern Style
     ms.kartini has taught indonesian women to wear kebaya. but, everyone must adjust their kebaya according to their own background. for example, the women who wear hijab, should not wear the transparent one because it against the law of islam religion.


Ferry Sunarto
  As the famous designer from Indonesia, Ferry Sunarto said that, "We must make something out of the box. who says that kebaya only fits with batik? we can make dresses or anything that make kebaya can be use by everyone". Elok Rege Napio also said that, "Our culture has many varieties of fashion that can be explored by anyone".
Elok Rege Napio

    From the opinions above, we can conclude that kebaya is expensive enough because we have to make it as the users' request and the materials are also expensive.

    The only way to protect our culture as the young generation is by using kebaya especially on the big days (ex: independence day) and we have to think about the new designs that can make people think, "Kebaya is not old-fashioned".

Minggu, 08 Maret 2015

HYDRAULIC SYSTEM FOR SHOWROOM



   Hallo readers ! 
   Di Semester 2 ini, Turfa' mendapatkan projek fisika mengenai  penerapan hukum dasar fluida statis, dalam hal ini mengenai penerapan hukum pascal yang menyangkut sistem hidrolik. Sistem hidrolik dalam sehari-hari dapat kita temui pada dongkrak hidrolik dan mesin hidrolik pengangkat mobil.
 
 Tiap kelompok diberi tugas untuk membuat suatu karya yang mempergunakan sistem hidrolik, tiap kelompok pun memperlihatkan kreativitas mereka masing-masing. Mayoritas tiap kelompok membuat jembatan atau lift. 
   Sedangkan kelompok Turfa' memilih untuk membuat Showroom, dimana kami menerapkan sistem hidrolik untuk membuka dan menutup pintu gerbang showroom, dan memajukan dan memundurkan sebuah mobil yang ada di Showroom tersebut. Dengan bahan utama yaitu 4 suntikan, 2 selang kecil transparan, beberapa batang tusuk sate, dan stik es krim.
Indah, Dewi, Turfa', Apong, Aurel.
   Kelompok Turfa' terdiri atas Afifah Fitriany Anwar (Apong), Aurel Widya Ningsih (Aurel), Herawati Dewi (Dewi), Indah Dian (Indah), dan Turfa' Selmi Abdi Qanitan (Turfa'). Awalnya kami ingin membuat semacam fortune teller yang dapat menggeleng dan menggagukan kepalanya karena kami terinspirasi dari sebuah blog yang memperlihatkan penerapan sistem hidrolik.
   You never know until you try. Jadi kami pun mencoba untuk membuat fortune teller tersebut, namun ekspektasi tak selamanya sesuai dengan realita, selain kurangnya informasi mendetail mengenai pembuat fortune teller tersebut, membuat kami bingung untuk membuat apa selanjutnya. Berdasarkan pengalaman membuat fortune teller tersebut, Turfa' membuat design toko kue, yang dimana pintu toko kue tersebut akan terbuka, dan latar dari toko kue dapat berubah dari malam menjadi  siang.
   Namun ternyata, kami terlalu sukar untuk membuat toko kue tersebut, karena pintu yang kami buat terlalu besar dan tidak mungkin bisa untuk membuat toko kue karena terhalang oleh suntikan yang kami pakai. Rasa kecewa pasti ada, karena apa yang diinginkan tidak sesuai. Kita terus memikirkan kira-kira apa yang cocok untuk kami buat, dan akhirnya kami mendapat ide untuk membuat showroom, melihat dari pintu gerbang yang lebar dan ada mobil-mobilan yang tak terpakai.
 
Dari sana kami pun membuat showroom, memang sulit untuk membuatnya, terutama saat membuka pintu gerbang, karena kami harus membuat sejenis engsel agar gerbang tersebut dapat terbuka. Dan selang yang sering bocor atau terlepas dari suntikan.
   Usaha tidak akan mengkhianati hasil. Kami akhirnya menyelesaikan dengan sempurna showroom kami, di hari itu juga kamipun mengumpulkan projek kami, dan mendapatkan nilai yang sempurnya.
    Projek fisika ini, selain membuat Turfa' belajar tentang penerapan sistem hidrolik, Turfa' juga belajar bagaimana kebersamaan dan mengkoordinator teman-teman agar dapat bekerja sama dengan baik. 

Senin, 02 Februari 2015

TEORI GUJARAT

   Beberapa hari yang lalu, saya sedang mempelajari tentang sejarah masuknya Islam. Ternyata ada berbagai teori yang mengatakan asal-usul bagaimana agama Islam masuk ke Indonesia, ada 3 teori yang terkenal yaitu teori Arab, teori Persia, dan teori Gujarat.
   Setelah memahami ketiga teori tersebut, yang pastinya berbeda, saya lebih tertarik dengan teori Gujarat, karena saya rasa apabila teori ini cukup memuaskan dan lebih real.
 
Snouck Hurgronje
   Teori Gujarat ini dikemukakan oleh para sarjana Belanda, salah satunya Snouck Hurgronje yang mengembangkan teori ini. Para pedagang Gujarat ini berasal dari anak benua India, asal-muasal dari daerah Gujarat dan Malabar. Orang-orang Arab yang bermazhab syafi'i bermigrasi dan menetap di India. Kemudian Islam berpijak kokoh di beberapa kota pelabuhan anak benua India, banyak yang menjadi pedagang perantara dalam perdagangan Timur Tengah dan datang ke Indonesia.
   Beberapa hari yang lalu, saya sedang mempelajari tentang sejarah masuknya Islam. Ternyata ada berbagai teori yang mengatakan asal-usul bagaimana agama Islam masuk ke Indonesia, ada 3 teori yang terkenal yaitu teori Arab, teori Persia, dan teori Gujarat.
   Setelah memahami ketiga teori tersebut, yang pastinya berbeda, saya lebih tertarik dengan teori Gujarat, karena saya rasa apabila teori ini cukup memuaskan dan lebih real.
   Teori Gujarat ini dikemukakan oleh para sarjana Belanda, salah satunya Snouck Hurgronje yang mengembangkan teori ini. Para pedagang Gujarat ini berasal dari anak benua India, asal-muasal dari daerah Gujarat dan Malabar. Orang-orang Arab yang bermazhab syafi'i bermigrasi dan menetap di India. Kemudian Islam berpijak kokoh di beberapa kota pelabuhan anak benua India, banyak yang menjadi pedagang perantara dalam perdagangan Timur Tengah dan datang ke Indonesia.
   Jadi teori Gujarat ini adalah teori dimana masuknya Islam ke Indonesia melalui para pedagang yang berlayar dari Gujarat ke Indonesia. Para pedagang yang beragama Islam, melakukan transaksi dengan warga Indonesia. Kemudian terjadi akulturasi, dimana warga Indonesia merasa tertarik dan pedagang Gujarat mengajarkan Islam kepada mereka. Dan akhirnya  agama Islam tersebar dan dapat diterima oleh warga Indonesia.
   Fakta-fakta apabila teori Gujarat ini benar dapat ditemukan pada batu nisan yang terdapat di Pasai, salah satunya batu nisan yang terdapat di makam Maulana Malik Ibrahim di Gresik dan juga terdapat di Jawa Timur, ternyata sama bentuknya dengan batu nisan yang terdapat di Cambay, Gujarat. Ada pun pada batu nisan Sultan Malik al-Saleh di Aceh.
    Fakta lainnya tulisan Marcopolo pedagang dari Venesia, yang menyatakan pernah singgah di Perlak (Peureula) pada tahun 1929 dan mendapati banyak yang Islam. Dan teori ini menyatakan bahwa datangnya pedagang Gujarat ke Indonesia pada abad ke-13.
   Itulah ilmu yang saya dapatkan mengenai sejarah masuknya agama Islam ke Indonesia dengan teori Gujarat, semoga tulisan ini dapat bermanfaat dan menambah wawasan pembaca. adi teori Gujarat ini adalah teori dimana masuknya Islam ke Indonesia melalui para pedagang yang berlayar dari Gujarat ke Indonesia. Para pedagang yang beragama Islam, melakukan transaksi dengan warga Indonesia. Kemudian terjadi akulturasi, dimana warga Indonesia merasa tertarik dan pedagang Gujarat mengajarkan Islam kepada mereka. Dan akhirnya  agama Islam tersebar dan dapat diterima oleh warga Indonesia. 
   Fakta-fakta apabila teori Gujarat ini benar dapat ditemukan pada batu nisan yang terdapat di Pasai, salah satunya batu nisan yang terdapat di makam Maulana Malik Ibrahim di Gresik dan juga terdapat di Jawa Timur, ternyata sama bentuknya dengan batu nisan yang terdapat di Cambay, Gujarat. Ada pun pada batu nisan Sultan Malik al-Saleh di Aceh.
   Fakta lainnya tulisan Marcopolo pedagang dari Venesia, yang menyatakan pernah singgah di Perlak (Peureula) pada tahun 1929 dan mendapati banyak yang Islam. Dan teori ini menyatakan bahwa datangnya pedagang Gujarat ke Indonesia pada abad ke-13.
   Itulah ilmu yang saya dapatkan mengenai sejarah masuknya agama Islam ke Indonesia dengan teori Gujarat, semoga tulisan ini dapat bermanfaat dan menambah wawasan pembaca. 

Minggu, 04 Januari 2015

TRADISI BATAMAT

   Assalamuualaikum wr.wb.
   After long time busy with all my activity, finally I'm back to this Blog !
   This time, I will tell about my end of the year holiday.
   
   I spend my holiday in Banjarmasin, and Palangkaraya.
  Salah satu alasan Turfa' menghabiskan waktu liburan, terutama di Banjarmasin untuk melaksanakan tradisi yaitu di saat kita selesai membaca seluruh isi Al-Qur'an dari awal hingga akhir, akan di rayakan acara yang bernama "Betamat". Mungkin bukan hanya tradisi disini atau ada nama lain dari "Betamat".

   Berhubung sepupu Turfa' (bernama Mamay) baru selesai membaca Al-Qur'an, dan seluruh keluarga besar dapat berkumpul dan bersilahturahmi, maka di adakanlah acara Betamat di Banjarmasin. Bukan Turfa' juga baru selesai membaca isi Al-Qur'an, dari SD Alhamdulillah nih Turfa' sudah lancar membaca Al-Qur'an dan sudah berkali-kali tamat, namun baru sempat untuk melaksanakan tradisi "Betamat" ini.

   Acara "Betamat" yang dirayakan dapat dibilang sederhana, karena selain  tujuannya untuk bersyukur karena sudah tamat membaca Al-Qur'an dan akan selanjutnya akan terus membaca Al-Qur'an dan memahami isi dari Al-Qur'an, karena Al-Qur'an adalah pedoman hidup manusia. "Betamat" ini pun seperti acara reuni keluarga, kebetulan keluarga Turfa' dapat dibilang keluarga perantau, yang tidak mudah kami untuk bisa berkumpul bersama.

Turfa' (Kanan) dan Mamay (Kiri).
   Kami (Turfa' dan Mamay) di dandani sederhana, dan katanya baju dan atribut untuk betamat yang kami pakai itu turun temurun, walau sudah turun temurun namun warna dan kualitas nya masih bagus loh.

   Acara di buka oleh seorang Ustad yang memberikan kata pengantar dan hikmah yang di ambil dari betamat, yaitu disaat kami membaca dari surah Ad-Dhuha dan kembali membaca surah Al-Baqarah 1 - 5, hal itu dikarenakan, apabila kita sudah tamat membaca Al-Qur'an kita tidak berhenti begitu saja, kita harus terus menurus membaca Al-Qur'an. Bukan hanya membaca, namun juga memahami kandungan yang terdapat di dalam Al-Qur'an, sangat banyak ilmu yang bermanfaat bagi kita yang ada di dalam Al-Qur'an, yang membuat kita menjadi orang yang berilmu, karena Allah swt. mengharamkan seseorang untuk berbicara tanpa di dasarkan ilmu, seperti pepatah "tong kosong nyaring bunyinya".

   Setelah selesai pembacaan ayat suci Al-Qur'an, dilanjutkan dengan membaca doa bersama. Kemudian kami berkeliling mencium tangan orang-orang yang hadir di acara ini, terutama kedua orang tua kami, sebagai wujud restu dan doa' yang bagi kami kedepannya.

  Lalu dilanjutkan dengan memotong nasi tumpeng, dan mengisinya dengan lauk pauk yang telah di sediakan, kemudian menyuapi orang tua masing-masing.

                                               


      Turfa' lumayan merasa terharu dengan tradisi ini, karena tradisi ini sangat bermanfaat dan memiliki makna. Semoga tradisi ini dapat diteruskan secara turun temurun dan berkembang, tanpa memiliki unsur menyimpang terutama dalam agama. Aamiin.